Breaking News

Riset Ketenagaan di Bidang Kesehatan (RISNAKES) Tahun 2017

Memasuki abad ke-21, kemajuan besar terjadi dalam dunia kesehatan, baik dalam hal ditemukannya obat-obatan baru maupun lompatan teknologi kedokteran. Sebaliknya, tantangan dan kekhawatiran juga semakin besar, ditandai dengan kerusakan akibat HIV/AIDS, ancaman infeksi baru seperti SARS dan Flu burung, New dan Re-Emerging disease, masalah perilaku dan gangguan mental,kekerasan dalam rumah tangga, serta cedera dan kecelakaan,

Penyedia layanan kesehatan merupakan inti dari sistem kesehatan, mengurangi rasa sakit dan penderitaan, mencegah penyakit dan mengurangi resiko. Jumlah tenaga kesehatan dan kualitas pelayanan berhubungan positif dengan cakupan imunisasi, jangkauan perawatan, dan kelangsungan hidup ibu, bayi dan anak. Kapasitas dan kepadatan distribusi dokter telah terbukti berkorelasi dengan hasil positif pada penyakit kardiovaskular.

Secara kontekstual, tenaga kesehatan juga dihadapkan pada tantangan menghadapi pencapaian Jaminan Kesehatan Semesta; bagaimana menjamin efektifitas pelaksanaan paket manfaat, peningkatan cakupan pelayanan, serta bagaimana negara menghasilkan, mendistribusikan dan mempertahankan tenaga kesehatan yang mendukung Universal Health Coverage.

Pada dasarnya, permasalahan terkait tenaga kesehatan meliputi aspek ketersediaan (availability), keterjangkauan (aksesibilitas), penerimaan (acceptabilitly), dan mutu (quality). Ketersediaan tenaga kesehatan berarti bahwa terdapat kecukupan tenaga kesehatan dengan kompetensi relevan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan masyarakat. Keterjangkauan dapat diartikan bahwa masyarakat dapat menjangkau tenaga kesehatan tersebut baik terkait waktu tempuh dan transport, jam buka pelayanan, mekanisme rujukan, dan biaya pelayanan (direct dan indirect). Aspek penerimaan (acceptability) meliputi karakteristik dan kemampuan tenaga kesehatan untuk memperlakukan setiap orang dengan penuh rasa hormat, serta mampu dipercaya. Dalam aspek mutu terkandung komponen kompetensi, kemampuan, pengetahuan, dan perilaku tenaga kesehatan sesuai norma profesional dan sesuai dengan yang diharapkan dari masyarakat.

Permasalahan utama yang dihadapi dalam menilai aspek ketersediaan (avaibility) adalah ketersediaan data yang valid mengenai jumlah tenaga kesehatan yang ada. Tidak banyak negara yang memiliki data yang memadai mengenai jumlah tenaga kesehatan di wilayahnya. Dalam hal aksesibilitas, dijumpai pula lebarnya disparitas keberadaan tenaga kesehatan secara geografis.

Kendati Riset Fasilitas Kesehatan 2011 telah mampu memberikan gambaran masalah ketersediaan dan aksesibilitas ketenagaan kesehatan secara umum, namun belum dapat memberikan gambaran dalam hal kualitas dan responsivitas. Berbagai permasalahan ketenagaan di bidang kesehatan terkait produksi tenaga kesehatan serta keberadaan tenaga kesehatan terkait produksi tenaga kesehatan serta keberadaan tenaga kesehatan diluar jalur pemerintah juga belum dapat dinilai. Selain itu, pada tahun 2014 Indonesia juga telah menerapkan kebijakan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam upaya pencapaian Jaminan Kesehatan Semesta. Upaya ini membutuhkan dukungan tenaga di bidang kesehatan dalam jumlah dan kapasitas yang memadai.

Dengan Risnakes tahun 2017 diharapkan akan memperoleh gambaran ketenagaan di bidang kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan di kabupaten/kota, provinsi, dan Nasional. Selain itu juga akan diperoleh pemetaan tenaga kesehatan secara nasional di fasilitas pelayanan kesehatan (RS dan puskesmas), sehingga dapat diketahui jumlah maupun kebutuhan sebenarnya tenaga kesehatan secara nasional. Tingkat Produktifitas seorang nakes dan responsiveness (kepuasan / ketanggapan) dari pelayanan kesehatan yang dilakukan di puskesmas / RS hal juga merupakan indikator yang akan diukur di riset ini.

Kota Palangka Raya pada Risnakes Tahun 2017 ini masuk pada KORWIL (Koordinator Wilayah) IV, dimana Provinsi Kalimantan Tengah satu kelompok dengan Provinsi Jambi, Riau, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Utara. Pengumpulan data ke 10 (sepuluh) Puskesmas dan 5 RS di wilayah Kota Palangka Raya dilaksanakan pada tanggal 07-25 Agustus 2017. Ada dua Tim Enumerator Puskesmas dan 5 Tim Enumerator RS, yang bertugas mengumpulkan data di sarana pelayanan kesehatan milik pemerintah.

Adapun 10 puskesmas sasaran Risnakes tahun 2017 di Kota Palangka Raya adalah Pahandut, Bukit Hindu, Panarung, Menteng, Kayon, Jekan Raya, Tangkiling, Rakumpit, Kereng Bangkirai, dan Kalampangan. Sedangkan Rumah Sakit sasaran Risnakes tahun 2017 adalah RSUD dr.Doris Sylvanus, RS Bhayangkara, RS TNI-AD, RSUD Kota Palangka Raya, dan RS PKU Muhammadiyah. Sebagai sub sample adalah Puskesmas Kayon dan RSUD Kota Palangka Raya serta RS PKU Muhammadiyah, dengan perlakuan khusus yaitu pengamatan terhadap beberapa petugas Puskesmas dan Rumah Sakit, juga wawancara dengan pengunjung/pasien Puskesmas/Rumah Sakit.

Tinggalkan Balasan