Breaking News

PERTEMUAN ORIENTASI PEMBERIAN TABLET FE (ZAT BESI) KEPADA REMAJA PUTRI DI KOTA PALANGKA RATA TAHUN 2018

Dalam undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, khususnya pada Bab VIII tentang Gizi, pada pasal 141 ayat I menyatakan bahwa upaya perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk meningkatkan mutu gizi perorangan dan masyarakat, antara lain melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan perilaku sadar gizi dan peningkatan akses mutu pelayanan gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu serta teknologi. Upaya pembinaan dan intervensi gizi yang dilakukan oleh pernerintah secara bertahap dan berkesinambungan yaitu dengan pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri.

Pelayanan Kesehatan WUS khususnya pada kelompok remaja dapat lebih optimal dan menjadi perhatian lintas program dan sektor terkait. Dengan penanggulangan Anemia pada remaja putri yaitu dengan pemberian tablet tambah darah sebagai persiapan untuk menjadi ibu hamil, karena wanita yang menikah atau hamil lebih banyak membutuhkan zat besi untuk pertumbuhan dan perkembangan janinnya. Akibat kekurangan zat besi pada ibu hamil antara lain akan mengalami keguguran, BBLR dan perdarahan, yang menjadi penyebab tertinggi kematian ibu melahirkan.

Anemia Gizi adalah kekurangan kadar hemoglobin dalam darah yang disebabkan karena kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan Hb tersebut. Remaja putri adalah masa peralihan dari anak menjadi dewasa , ditandai dengan perubahan fisik dan mental. Perubahan fisik ditandai dengan berfungsinya alat reproduksi seperti menstruasi (umur 10-19 th). Wanita usia subur adalah wanita pada masa atau peroide dimana dapat mengalami proses reproduksi. Ditandai masih mengalami menstruasi (umur 15-45 th).

Pemberian tablet tambah darah pada remaja putri sangat diperlukan, karena apabila tidak diberikan FE akan berdampak terhadap Anemia. Anemia akan berdampak pada :

  1. Menurunnya kesehatan reproduksi.
  2. Terhambatnya perkembangan motorik, mental dan kecerdasan.
  3. Menurunkan kemampuan dan konsentrasi belajar
  4. Konsentrasi belajar menurun sehingga prestasi belajar rendah dan dapat menurunkan produktivitas kerja.
  5. Mengganggu pertumbuhan sehingga tinggi badan tidak mencapai optimal.
  6. Menurunkan tingkat kebugaran.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut tidak bisa dikerjakan oleh sektor kesehatan sendiri akan tetapi memerlukan kerja sama lintas sektor untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sebagai tindak lanjut maka puskesmas sebagai lini terdepan dari struktur jajaran kementrian kesehatan menjadi penggerak utama di masyarakat dalam penanggulangan masalah gizi yaitu dengan pemberian TTD pada remaja putri. Sekolah yang berisikan siswa/ remaja merupakan ujung tombak dalam pembangunan bangsa ini yang memiliki karakteristik berjiwa muda, semangat tinggi, loyalitas tinggi dan intelektual tinggi sehingga para remaja harus dalam keadaan sehat untuk meraih cita-citanya.

Tujuan dari kegiatan ini adalah (1) meningkatkan keterampilan petugas dalam Pemberian tablet besi (FE) pada Remaja Putri, (2) meningkatkan pengetahuan petugas dalam pencegahan anemia pada remaja putri. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 20 Maret 2018 diikuti 22 orang dari Puskesmas yaitu Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) dan Petugas UKS di Puskesmas.

Tinggalkan Balasan