Breaking News

KEGIATAN PELATIHAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS) KOTA PALANGKA RAYA TAHUN 2017

Dalam “Tracking Progress in Maternal, Newborn & Child Survivalthte 2008 Report” disebutkan bahwa ada 10 juta anak meninggal setiap tahunnya sebelum mereka merayakan ulang tahunnya yang ke lima, artinya bahwa terdapat lebih dari 2.600 balita meninggal setiap harinya. Terdapat 40% kematian balita tersebut terjadi pada masa neonatal dan 1/3 diantaranya didasari oleh kurang gizi. Dalam laporan tersebut disebutkan pula bahwa dalam upaya menurunkan kematian balita ada beberapa intervensi yang harus dilaksanakan antara lain melalui peningkatan pelayanan antenatal care dan persalinan oleh tenaga kesehatan, kunjungan neonatal, penanganan gizi kurang, ASI eksklusif, pemberian vitamin A dosis tinggi, imunisasi, pencegahan dan pengobatan malaria, pengobatan diare dan pneumonia, penggunaan jamban bersih dan jamban keluarga serta pencegahan transmisi HIV dari ibu ke bayi. Termasuk pentingnya kebijakan, sistim pelayanan dan distribusi pelayanan bagi ibu hingga ke balita.

Menurut hasil Riskesdas Tahun 2013 Insiden dan Prevalensi ISPA di Indonesia tahun 2013 adalah 1,8 persen dan 4,5 persen. Ditularkan melalui udara Period prevalence Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan keluhan penduduk adalah 25,0 persen. Lima provinsi yang mempunyai insiden dan prevalensi pneumonia tertinggi untuk semua umur adalah Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan.           

Berat Badan Bayi Lahir juga akan berpengaruh terhadap tingkat kesehatan bayi serta balita. Jika diamati dari bayi lahir, prevalensi bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) berkurang dari 11,1 persen tahun 2010 menjadi 10,2 persen tahun 2013. Variasi antar provinsi sangat mencolok dari terendah di Sumatera Utara (7,2%) sampai yang tertinggi di Sulawesi Tengah (16,9%). Untuk pertama kali tahun 2013 dilakukan juga pengumpulan data panjang bayi lahir, dengan angka nasional bayi lahir pendek <48 cm adalah 20,2 persen, bervariasi dari yang tertinggi di Nusa Tenggara Timur (28,7%) dan terendah di Bali (9,6%).

Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) merupakan suatu pendekatan keterpaduan dalam tatalaksana bayi dan balita sakit yang datang berobat ke fasilitas rawat jalan di pelayanan kesehatan dasar. MTBS mencakup upaya perbaikan manajemen penatalaksanaan terhadap penyakit seperti pneumonia, diare, campak, malaria, infeksi teliga, malnutrisi serta upaya peningkatan pelayanan kesehatan, pencegahan penyakit seperti imunisasi, pemberian vitamin K, vitamin A dan konseling pemberian ASI atau makanan. MTBS digunakan sebagai standar pelayanan bayi dan balita sakit sekaligus sebagai pedoman bagi tenaga keperawatan (bidan dan perawat) khususnya di fasilitas pelayanan kesehatan dasar.

Manajemen Terpadu Balita Sakit, adalah pendekatan yang mampu mengintegrasi dan memadukan penanganan berbagai masalah diatas. Penerapan MTBS dengan baik dapat meningkat kan upaya penemuan kasus secara dini, memperbaiki manajemen penanganan dan pengobatan, promosi serta peningkatan pengetahuan bagi ibu-ibu dalam merawat anaknya dirumah serta upaya mengoptimalkan sistim rujukan dari masyarakat ke fasilitas pelayanan primer dan rumah sakit sebagai pusat rujukan.

Pada tahun 2017, sebagai komitmen pejabat atau pengelola program terkait baik di Kementrian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota hingga ke puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan di masyarakat, telah dilaksanakannya Pelatihan Tehnis MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit). Pelatihan MTBS bertempat di Hotel Batu Suli Jl. Raden Saleh Palangka Raya yang dilaksanakan selama 5 (lima) hari efektif yaitu pada tanggal 4 s/d 8 Juli 2017

Pelatihan ini bertujuan untuk mengajarkan proses manajemen kasus kepada perawat, bidan, dokter dan tenaga kesehatan lain yang menangani balita sakit dan bayi di fasilitas pelayanan kesehatan dasar seperti puskesmas, puskesmas pembantu, pondok bersalin, klinik, balai pengobatan maupun melalui kunjungan rumah.

Peserta terdiri dari 30 orang dari 10 Puskesmas dengan kriteria dokter umum, perawat atau bidan. Narasumber/fasilitator sebanyak 3 orang yaitu 1 orang berasal dari Bapelkes yang sekaligus bertindak sebagai MOT, 1 orang dari Puskesmas Kereng  Bangkirai yang sudah pernah dilatih TOT MTBS dari 1 orang dari Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya yang menyampaikan mengenai kebijakan program kesehatan anak. Biaya pelaksanaan kegiatan pelatihan ini berasal dari DPA SKPD Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya Tahun 2017 bersumber dana pajak rokok.

  

 

Tinggalkan Balasan